Mengajarkan Anak Untuk Shalat

Mengajarkan Anak Untuk Shalat

mengajarkan anak untuk Shalat

Mengajarkan anak untuk shalat tidaklah mudah. Saat bersekolah, anak-anak mungkin lebih semangat salat berjamaah bersama teman-teman dan gurunya. Namun, selama pandemi COVID-19, anak-anak hanya di rumah saja. Bunda pun harus berkali-kali mengingatkan anak untuk salat.

Kalau sudah begini, memang dibutuhkan kesabaran ekstra, untuk menanamkan kesadaran beribadah pada anak. Termasuk membuat mereka disiplin untuk salat tanpa paksaan.

Rasulullah SAW telah menyampaikan bahwa usai mengajarkan anak belajar agama (sholat) ketika sudah tujuh tahun. Jika belum genap tujuh tahun anak tidak boleh dituntut untuk bisa belajar agama kecuali hanya memperkenalkannya.

Demikian juga pada usia 7 tahun, anak didik diperkirakan sudah mampu belajar sholat dengan baik, sudah mulai mengenal bacaan dan gerakan gerakan sholat dengan baik. Kalau pada usia sebelumnya anak hanya ikut-ikutan, pada usia ini sudah mulai mampu belajar sholat dengan baik.

“Usia secara kebetulan sama dengan usia anak sekolah dipedomani dalam penerimaan masuk sekolah formal di sekolah tingkat dasar titik konsekuensinya anak yang telah mampu belajar sholat dengan baik berarti pula ia telah menerima hukuman jika meninggalkannya.

Ada tiga cara mengajarkan anak salat.

Simak ulasannya di bawah ini :

Halus atau sekadar anjuran sebelum berumur 7 tahun

Cara mengajari salat anak sebelum usia 7 tahun bisa dilakukan dengan bermain. Menurut Irsyad, orang tua akan lebih efektif jika mengajarkan anak tidak dengan saklek atau kaku. Pada usia ini, orang tua cukup susah mengharapkan anak terbiasa melakukan salat dengan tertib.

Mengharapkan anak belajar salat dengan khusyuk tentu amat sulit. Sedikit gerakan yang tidak ada dalam tuntunan tak mengapa. Ingat Bunda, pada usia ini cara mengajar yang paling efektif yakni dengan memberikan teladan yang baik. Anak lebih banyak melihat dan meniru apa yang orang-orang di sekitarnya lakukan. Khususnya orang tua.

Bersifat penekanan atau perintah

Bunda boleh menekan atau memerintah anak, saat masuk rentang waktu antara usia 7 hingga 10 tahun. Menurut Irsyad, pada usia ini orang tua sudah mulai memerintahkan dan membiasakan anak untuk salat dengan tegas.

“Kenapa? Karena akal anak sudah mulai berkembang. Dia sudah mulai mengenal mana yang salah dan benar, sehingga akan lebih mudah untuk diarahkan dan diajarkan”. Selain itu, orang tua juga boleh menegur apabila anak salah dalam melakukan salat.

Cara yang paling tegas

Cara yang paling tegas berupa hukuman bisa dilakukan apabila anak sudah berumur 10 tahun ke atas. Metode pengajaran ini sudah disesuaikan dengan kondisi psikologis anak. Pada usia ini, anak juga diharapkan tak hanya mengenal, tapi sudah tahu mana benar dan salah. Untuk anak yang baligh, hukumnya wajib melaksanakan salat.

Pada usia ini mulai muncul rasa ingin melawan karena usia ini juga disebut masa membandel. Itulah sebabnya, memberi hukum diperbolehkan apabila dia tidak mau salat.Salain itu, untuk mengajarkan anak salat itu tidak bisa instan. Ada proses yang harus orang tua dan anak lalui terlebih dahulu. Karenanya, orang tua hendaknya bersabar ketika mengajarkan anak salat.

semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk Ayah / Bunda yang membacanya, bagikan artikel ini supaya orang lain juga mendapatkan manfaatnya. Baca artikel atau tips parenting lainnya di halaman website  Cahaya Iman Aqiqah

Mengajarkan Anak Untuk Shalat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya via WA

CALL